Bahaya Herbal Yang di Campur Bahan Kimia.

OBAT berbahan alami yang biasa disebut jamu atau herbal ternyata tak semuanya aman. Kenapa? Ada banyak jamu herbal yang ternyata dicampur bahan kimia. Bahkan, herbal yang berasal dari China – negara yang terkenal karena herbalnya – juga banyak yang mengandung bahan kimia. Di sana tak ada larangan mencampur herbal dengan bahan-bahan kimia.

Tak hanya herbal impor, jamu dari dalam negeri juga banyak yang dicampur dengan bahan kimia. Memang jamu tersebut terasa manjur, dalam sekejap penderita merasakan rasa sakitnya hilang. Namun, jamu bercampur kimia dapat berdampak negatif, karena penderita bisa menyandang penyakit lain yang berakibat fatal, misalnya hipertensi atau ginjal.

”Jamu atau obat herbal yang mengandung bahan kimia biasanya dikonsumsi masyarakat yang tinggal di pelosok, misalnya pernah ada temuan penggunanya sebagian besar buruh di perkebunan di daerah Sumatera,” ungkap Prof Dr Drs Constantinus Joseph Soegihardjo Apt seusai dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, kemarin.

Dia mengingatkan itu, karena sebagian besar masyarakat belum tahu banyak bahwa obat herbal mengandung bahan kimia. ”Meskipun BPOM sudah sering melakukan operasi, pembuat dan penjual masih saja bisa umpet-umpetan  mengedarkan jamu,” kata dia yang pernah menjadi anggota tim penerbitan buku pegangan dokter dan apoteker ”Vademekum Tanaman Obat untuk Sertifikasi Jamu” Kementerian Kesehatan RI ini.

Campur Viagra

Lebih parah lagi, ia mengutip sebuah penelitian, jamu kuat yang dijual di sepanjang Jalan Kaliurang Yogyakarta, ternyata mengandung viagra. Ini sangat berbahaya pagi konsumen. Bayangkan saja, hanya sepanjang Jalan Kaliurang begitu banyak penjual obat kuat yang disebut jamu, tapi ternyata dicampur dengan viagra.

”Saya juga terkejut dengan penelitian luar biasa itu dan ini kenyataan. Anehnya, obat kuat campur viagra dijual murah, jauh lebih murah daripada viagra. Nah, kalau sudah begini tentu mengundang tanya dari mana penjual memperoleh dengan harga murah,” papar Soegihardjo yang lahir di Salatiga, 27 Oktober 1942 ini.

Berkali-kali ia mengingatkan pada instansi terkait supaya lebih turun ke lapangan dan melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang bahaya jamu bercampur kimia yang banyak beredar. Kendati demikian, ia mengakui SDM untuk itu sangat terbatas sehingga ia menyarankan masyarakat untuk datang ke BPOM atau laboratorium di kampus-kampus, seperti USD ketika ragu-ragu terhadap produk jamu tertentu.

”Jangan sampai masyarakat dirugikan, sudah keluar uang tapi kena dampak lebih parah akibat mengonsumsi herbal bercampur kimia,” tandas suami dari R Ngt Maria Magdalena Sri Kuroisin ini.

Sumber. Suara Merdeka.Com

%d blogger menyukai ini: